Nothing Can Stop Human From Being Happy *t&c applied

Oleh: Annisa Hasna

Nama Fluxcup menjadi distraksi sesungguhnya yang terjadi di dunia maya. Melabeli dirinya sebagai seorang visual artist, Fluxcup sukses membuat netizen tertawa lewat karya-karya yang dilahirkannya. Memulai karir dengan membuat video dubbing Arya Wiguna, kini Fluxcup sudah memiliki banyak karya dan tentunya pengikut yang banyak pula. Berlatar belakang sebagai seniman yang pernah memenangkan penghargaan seniman kontemporer se-Bandung raya, membuat Fluxcup memiliki sikap yang serius dibalik kejenakaannya.

 

Productive Is a Bullshit

Hadirnya pandemi ini membuat banyak seniman memutar otak dalam berkarya, banyak diantara mereka yang mulai berkarya dengan menggunakan metode online. Pada awalnya, Ucup yang memang merupakan seorang seniman video based mengira ini adalah momen yang tepat untuk para seniman yang sejalan dengannya dapat berkarya dengan lebih maksimal, namun nyatanya tren live hanya berlangsung di minggu-minggu awal pandemi karena selanjutnya audiens pasti sudah merasakan kebosanan. 

“Ngeluarin karya itu cuma awal-awal doang, pas hype sama yang namanya #StayAtHome. Wah, kayaknya ini, tuh, kesempatan buat para konten kreator yang studio based untuk bikin karya yang lebih, tapi, sisanya malas-malasan.”

Alih-alih memberikan jawaban yang positif untuk terus berkarya, disini Ucup justru memberikan jawaban paradoks dan di luar ekspektasi—bermalas-malasan, karena di sini Ucup menyadari bahwa netizen tentu akan bosan dengan notifikasi live dari platform-platform media sosial yang ada.

 

It’s Okay To Not Be Yourself

Di era digital ini banyak orang yang berlomba-lomba menunjukkan jati dirinya sendiri. Tapi, apakah mereka yakin sudah menjadi dirinya sendiri? Media sosial saat ini justru menjadi medium pencitraan yang sesungguhnya, untuk itu Fluxcup hadir!

Merepresentasikan kebebasan berekspresi, Ucup hadir sebagai alter ego yang sebenarnya sah-sah saja dilakukan oleh siapapun. 

“Gue mah jadi diri sendiri juga nggak, karena gue paham mana ranah privasi mana yang harus dilihat publik.”

 

Just Being Aware

Terkadang dalam membuat karya banyak seniman yang berlebihan dalam melakukan brainstorming untuk membuat karyanya menjadi besar. Namun tidak dengan seorang Fluxcup, dalam membuat karya ia hanya berusaha peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Kayak waktu gue bikin video Mark Zuckerberg, itu, kan, gue cuma ngambil adegan waktu dia minum terus gue ulang-ulang. Nah, ketika ada isu besar di belakang video tersebut, ya, jadi besar, kan waktu itu berita soal Facebook lagi rame, tuh.”

Dari sini kita belajar bahwa dalam membuat suatu karya tidak perlu terlalu tenggelam dalam pemikiran, cukup dengan menyadari hal-hal yang sedang terjadi di lingkungan sekitar.

 

Viral Itu Bonus

Dengan kemudahan teknologi yang kita miliki saat ini, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi kreator dengan pemikiran getting rich with being viral.

“Mereka sah-sah aja, sih, mau buat apa aja. Cuma, kadang yang suka luput dari mereka, tuh, disiplinnya, pada pengen kaya dengan menjadi viral. Berkarya dulu aja, terkenal dan kaya, mah, poin plusnya.”

Tidak ada kesuksesan yang datang dengan instan, kesuksesan datang dari mereka yang bersungguh-sungguh dalam menekuni sesuatu. Segala hal yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh pasti akan berbuah manis. 

 

Personal Branding vs Branding

Seperti yang kita tahu, Fluxcup merupakan alter ego dari sang kreator. Lalu, seberapa pentingnya, sih, personal branding dan branding bagi mereka berdua?

“Keduanya sama-sama penting. Misalkan, ada permintaan untuk tampil sebagai Ucup, ya, gue akan jadi Ucup. Keduanya penting, tapi, ya, beda platformnya, gitu. Gue kan seniman, di CV pun gue masukin link page instagram gue dan link video-video yang udah gue bikin. Fluxcup, tuh, sebagai karya dari gue, antitesisnya diri pribadi gue.”

 

From Fluxcup for You

“Nothing can stop human for being happy *t&c applied.”

Adalah hak kamu untuk melakukan segala sesuatu yang membuat kamu bahagia. Dalam mencapai kebahagiaan tersebut, kamu tidak perlu mempertimbangkan aturan yang menurut orang lain tidak benar. Namun, tetap dengan catatan yaitu memperhatikan hal-hal yang memang harus dikompromikan, seperti norma sosial dan dampak terhadap masyarakat. 

Fluxcup masih ingin berbagi dengan kamu. Stay tune terus, ya, untuk video lengkapnya!

Annisa Hasna
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

...

Bagi Mereka, Pahlawan itu...

ALI YAUMIL
10 Nov 2021 | 1 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved