Berbicara Tanpa Kata

Oleh: Citra Saras

Papermoon Puppet, teater boneka asal Yogyakarta yang mendunia lewat karya. Terbiasa mengadakan penampilan dengan jadwal tahunan karena dibutuhkan proses persiapan yang panjang, kondisi pandemi membuat Papermoon Puppet harus banting setir secara mendadak. Rencana awal untuk melakukan tur ke 5 hingga 6 negara termasuk Australia, Jepang, Belanda, dan Singapura terpaksa harus dibatalkan. Prinsip untuk selalu melakukan live performance juga mereka ubah dan disesuaikan dengan keadaan. Hal yang tadinya mereka pikir akan menyulitkan ternyata malah mendatangkan kemungkinan-kemungkinan baru serta kesempatan untuk bereksperimen yang menyenangkan.

Whisper Rather Than Shout

Papermoon Puppet Theater selalu menjaga intimasi di dalam show-nya dengan membatasi jumlah penonton. Melalui intimasi yang dibangun itu, mereka dapat menyampaikan pesan dalam cerita meski tanpa menggunakan dialog dan bahasa. “Yang dijaga di pertunjukan itu relasi antara penonton, pemain dan boneka. Kalau penontonnya banyak, khawatir relasi itu kendor.”

Iwan dan Ria juga ternyata memiliki makna dari setiap ukuran boneka yang mereka buat. Jika ukuran boneka dibuat besar, artinya ia berteriak, jika ukuran boneka dibuat seukuran manusia, artinya ia berbicara lantang, sementara jika boneka tersebut memiliki ukuran yang kecil, tandanya ia sedang berbisik. Melalui perumpamaan ukuran itu, Ria dan Iwan menyampaikan bahwa seseorang akan lebih mendengarkan kita ketika kita berbisik daripada berteriak.

Start from Scratch

Memutuskan untuk memberi nama Papermoon di tahun 2006, Ria dan Iwan bercerita bahwa proses pembuatan ide ini berjalan sangat organik, tanpa design sedikit pun. Tidak hanya berdua, Iwan yang merupakan seorang perupa dan Ria yang pernah beraktivitas di dunia seni pertunjukan juga melibatkan teman-teman dari disiplin lain dalam proses eksekusi ide.

Ketika ditanya mengenai bagaimana proses pembuatan idenya, Iwan berkata mereka banyak mendapatkan bantuan dari semesta. “Kita bikin ini diseriusin aja, begitu bilang mau diseriusin, tiba-tiba semesta mendorong dari sana sini untuk mewujudkan semuanya.” Tapi, dengan begitu bukan berarti mereka tidak melakukan usaha yang besar; segala pencapaian yang mereka dapatkan hari ini merupakan proses yang diperjuangkan setiap hari.

Nothing to Lose

Salah satu hal yang mendorong keberanian Papermoon dalam mengeksekusi idenya ialah karena mereka menggenggam kuat prinsip nothing to lose; tidak akan ada kerugian yang diciptakan atas usaha yang mereka lakukan. Perjalanan berkreasi mereka juga melibatkan banyak kebetulan serta orang-orang baik di dalamnya, termasuk Mbah Ledjar; dalang wayang sekaligus mentor dari Ria. Di pertemuan pertamanya, Mbah Ledjar menangis haru karena selama menjadi dalang wayang, baru kali itu ia mendapatkan seorang perempuan muda yang datang dan meminta diajari menatah. Mulai hari itu Ria datang setiap hari selama kurang lebih dua tahun. Mbah Ledjar mengajari Ria dengan tekun dan antusias, hingga beliau sering sekali bercerita tentang seluk beluk perwayangan hingga mengantarkan Ria untuk membeli alat di Pasar Beringharjo. Itu pula yang menjadi alasan Papermoon membuat festival dan puppet lab agar semakin banyak orang yang bisa mereka ajak untuk berkembang bersama.

Ria dan Iwan juga berbagi pengalaman residensi yang amat berkesan dan mengubah mereka. Saat sedang residensi di New York selama enam bulan, mereka bertemu dengan 70 seniman boneka, tapi, daripada berdiskusi mengenai teknik, Ria dan Iwan lebih tertarik untuk bertanya, “Kenapa medium ini yang kamu pilih?” untuk melihat serta memahami lebih dalam way of thinking dan way of living para seniman di sana.

To Spread Kindness and Energy

“Tujuan apa pun yang kita bikin bareng kalau bisa jadi berkah untuk banyak orang.” 

Sejak awal, Ria dan Iwan sudah berkomitmen, hal apa pun yang mereka lakukan, harus dilakukan dengan tujuan untuk menjadi berkah bagi orang banyak. Maka dari itu, melalui setiap performance dengan tema dan statement apa pun, keinginan mereka tetap sama, yaitu menebarkan kabar dan energi baik; karena dunia benar-benar membutuhkan dua hal tersebut.

Dengan prinsip yang sama untuk menebarkan kebaikan pada dunia, mereka juga memulai segalanya dari tim internal. “Nomor satu, tim harus bahagia. Yang namanya stress pasti ada, cuman happiness itu perlu dan energi baik perlu disebar bahkan sampai menubuh di semua anggota Papermoon.”

Lunang, Ria & Iwan saat ngobrol bersama Grace

 

Pada akhirnya, asas kebermanfaatan dan kebahagiaan menjadi akar dalam berkarya bagi Papermoon Puppet, bagaimana dengan kamu?

 

 

Citra Saras
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

...

Bagi Mereka, Pahlawan itu...

ALI YAUMIL
10 Nov 2021 | 1 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved