Ruang Sendiri dan Apresiasi

Oleh: Citra Saras

We had a very warm talk with Ibu Marintan & Pak Andar, pasangan seniman yang sudah menikah selama 32 tahun dan dikaruniai tiga orang anak yang kini beranjak dewasa. Meski usianya sudah tidak terbilang muda, namun Ibu Marintan dan Pak Andar masih memiliki semangat yang sangat besar dalam berkarya. 

Banyak hal mereka lakukan bersama, mulai dari berkolaborasi dalam satu karya, membangun yayasan, hingga membesarkan anak dan membina keluarga dengan cara yang mereka telah sepakati sebelumnya. Melalui banyak naik turun kehidupan, kira-kira apa, ya, yang membuat Pak Andar dan Ibu Marintan bisa terus berjalan beriringan hingga hari ini?

Sibuk Menghadapi Diri Sendiri

“Menghadapi diri sendiri ternyata lebih sulit dibandingkan menghadapi dunia luar,” jawab Pak Andar ketika kami bertanya tentang kesibukannya di tengah pandemi ini. Meski cukup banyak kesulitan yang dialami – seperti pertemuan dan acara yang biasa dilakukan dengan tatap muka jadi harus terbiasa melalui layar, Pak Andar dan Ibu Marintan memanfaatkan kesempatan ini untuk saling mengenal satu sama lain dengan lebih dalam serta menikmati saat-saat bersama. 

Jika biasanya mereka sibuk dengan urusan masing-masing sedari pagi hingga malam, kini mereka jadi bisa saling bersapa ketika baru membuka mata, saling menyiapkan sarapan, dan merapikan rumah bersama.

Love at The First Energy

Bertemu di kampus sebagai adik dan kakak tingkat, Pak Andar langsung merasa ada energi yang berbeda ketika melihat Ibu Marintan yang saat itu menjadi panitia masa orientasi. Ibu Marintan hadir bagai jawaban atas segala yang dicita-citakan Pak Andar sedari kecil. Sosoknya yang hangat, penuh apresiasi, dan sangat menghargai membuat Pak Andar merasa semakin yakin bahwa Ibu Marintan adalah orangnya.

Respek Menjadi Kunci

Menjalani kehidupan bersama dalam hitungan puluhan tahun jelas bukan hal yang mudah. Tapi, Pak Andar dan Ibu Marintan sudah menemukan kunci untuk terus bertahan bersama, yaitu, respect. Pak Andar bercerita, bagi mereka, respect, melindungi, dan menghormati bukan lah kata sifat, melainkan perasaan serta sikap yang tumbuh secara natural. 

“Aku, sih, sangat bahagia karena dia itu sangat menghargai proses aku sendiri. Aku merasa kebebasan dalam artian positif didukung olehnya,” Ibu Marintan mengatakan kalimat tersebut dengan mata berbinar dan senyum yang terulas di bibirnya. Sementara Ibu Marintan bercerita tentang bagaimana Pak Andar senantiasa menghargai dirinya, Pak Andar menjawab bahwa hal paling berkesan yang pernah Ibu Marintan lakukan untuknya ialah bagaimana caranya merawat Pak Andar ketika sakit.

Kami Tumbuh Bersama Anak

Ibu Marintan dan Pak Andar tidak pernah sekali pun melihat anak sebagai penghalang dalam berkarya. Justru sebaliknya, anak-anak selalu menjadi penyemangat sekaligus bagian dari keseluruhan perjalanan. Ibu Marintan dan Pak Andar juga memiliki caranya sendiri untuk mendidik dan membesarkan anak, “Apa yang kita lakukan di rumah itu tentunya berbeda dengan apa yang kemudian mereka alami di sekolah.”

Banyak dari kita yang memiliki perilaku berbeda saat berada di dalam dan di luar rumah bersama teman-teman. Umumnya, manusia merasa bisa lebih ekspresif di luar rumah, kemudian menjadi sosok yang berbeda ketika pulang. Tapi, Ibu Marintan dan Pak Andar menegaskan sebaliknya. Sekolah atau lingkungan luar merupakan tempat di mana anak-anak mereka harus beradaptasi dan menyesuaikan diri, karena ada nilai-nilai yang harus dipatuhi. Sementara, mereka diberikan kebebasan untuk mengekspresikan hal apa pun dan benar-benar menjadi dirinya ketika berada di dalam rumah.

“Kan kita, tuh, tumbuh bersama anak. Bukan anak anak, terus kita kita, tumbuh sendiri. Nggak, kan?” Tambah Pak Andar semakin membuka mata bahwa bukan hanya anak yang tumbuh menjadi dewasa dengan mencontoh apa yang orang tuanya lakukan. Tapi, hal ini juga berlaku dua arah. Di dalam proses bertumbuh, orang tua juga banyak belajar dari anak. 

“Katakan lah ini sebuah perjalanan – perjalanan bersama. Kita bersama-sama itu survival untuk menghadapi situasi-situasi di luar. Nah, untuk itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah kompak.”

Ruang Luas Untuk Apresiasi

Memiliki pasangan yang tidak ragu untuk memberikan kritik membangun dan apresiasi merupakan sebuah anugerah bagi setiap orang, dan Ibu Marintan jelas merasakannya. “Ketika Andar itu memberi hanya seucap apresiasi sebenarnya udah sangat membahagiakan. Apresiasi itu tidak harus selalu manis, tapi bisa jadi kritik, bisa jadi sebuah dukungan yang barangkali terdengar pahit, tapi ada bentuk perhatian di situ.”

Selain hadirnya apresiasi yang tinggi di antara Ibu Marintan dan Pak Andar, keduanya juga saling mengerti untuk memberikan ruang personal ketika dibutuhkan. Ibu Marintan tidak pernah menghalangi Pak Andar untuk berkelana melakukan kesenangannya selama perjalanan tersebut menjadi makna tersendiri bagi Pak Andar.

It’s always been a simple gesture and understanding to keep the flame burning between these two. Bukan hal sederhana untuk bertumbuh bersama, saling percaya, dan terus menghargai seraya memberikan banyak toleransi terhadap satu sama lain. Tapi, dengan rasa sayang dan kebiasaan, hal tersebut akan terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan.

May you feel the love that could give you warmth and make you feel safe in your entire life.

Citra Saras
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

...

Bagi Mereka, Pahlawan itu...

ALI YAUMIL
10 Nov 2021 | 1 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved