Pidi Baiq: Biasa Aja

Oleh: Citra Saras

Unik. Satu kata yang mungkin bisa mewakili sosok Pidi Baiq, penulis dan seniman serba bisa yang kini memulai peruntungan dengan menjadi petani. Banyak perbincangan menarik sekaligus membingungkan yang terjadi di malam sunyi bersama Ayah (panggilan akrab Pidi Baiq) yang mengundang tawa dan banyak tanda tanya di kepala. Memang, kami harus menyatukan frekuensi terlebih dahulu baru betul-betul paham apa yang sebenarnya ingin beliau sampaikan.

 

Menulis Buku Karena…

Siapa, sih, yang nggak mengenal Pidi Baiq? Selain sebagai founding father dari The Panas Dalam, Pidi Baiq juga dikenal dengan karya fiksinya yaitu series buku Dilan.

Sebagai penulis yang terbilang berhasil, kami kira akan banyak cerita tentang dunia tulis menulis dari beliau. Surprisingly, apa yang ia ceritakan sangat jauh dari dunia penulisan, bahkan lebih menyenangkan dari ekspektasi kami.

“Ayah, kenapa nulis?” Tanya kami. Jawaban beliau berikan sederhana, “Saya nulis buku karena saya tidak tau apa yang harus saya lakukan.” Mengaku menulis tanpa basic dan teori, beliau mengatakan bahwa ia tidak bisa dikatakan sebagai seorang penulis – karena, baginya penulis merupakan sebuah profesi. Sementara, ia hanya menganggap dirinya sebagai seorang manusia yang senang bercerita melalui tulisan.

 

“Nggak Dianggap Juga Nggak Masalah.”

Mencari validasi akan hal yang kita lakukan merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Tapi, haus akan hal tersebut secara terus menerus juga bukanlah hal yang baik. Selain membuat kita jadi merasa sering tidak puas terhadap diri sendiri, hal itu juga bisa jadi mempengaruhi ketulusan dalam berkarya.

“Teu dianggap ge, gak masalah,” ujar Pidi Baiq dengan bahasa setengah sunda ketika kami membicarakan perihal profesinya. Daripada dielu-elukan melalui profesi apapun yang ia jalani, Pidi Baiq lebih senang dianggap sebagai manusia biasa yang memiliki hak untuk hidup di dunia.

Ada banyak orang yang overproud terhadap apa yang ia lakukan atau sesuatu yang dihasilkan – that couldn’t be totally wrong, karena bangga akan diri sendiri merupakan salah satu bentuk dari self-love. Tapi, lain lagi ceritanya kalau kebanggaan itu sudah melebihi batas wajar dan malah membuat diri menjadi besar kepala.

Ada dua pesan yang sangat menempel di kepala kami terkait dua hal tersebut.

Pertama, “Jangan memberhalakan diri sendiri. Nanti kamu kecewa ketika itu gagal.”

Kedua, “Barang siapa yang ingin dipuji, harus siap mati karena hinaan.”

 

“Biasa Aja” Kecuali Hal Prinsip

“Ayah, kalau ada yang nggak baik sama Ayah gimana?”

“Biasa aja.”

“Kalau ada yang meniru karya Ayah gimana?”

“Biasa aja.”

“Kalau dapat banyak awards gimana?”

“Ya biasa aja.”

Kami jelas merasa bingung, kok bisa semua pertanyaan dijawab dengan “biasa aja”?

Rupanya karena untuk Pidi Baiq ini memang prinsipiel. Hampir semua hal atau kejadian ia anggap biasa aja; nggak terlalu mempengaruhi apalagi sampai membawa naik turun emosi. Mendapatkan banyak penghargaan jelas membuatnya senang, tapi nggak jadi membuatnya bersikap berlebihan sampai ingin berteriak sambil lari atau tiba-tiba menaiki podium juga. Karena, mendapatkan penghargaan bukan menjadi hal yang prinsip pun menjadi tujuan hidup baginya.

Prinsip bagi Pidi Baiq adalah keluarga. Jika ada yang mengganggu anak atau istrinya, wajarlah ia marah. Atau jika ia kehilangan salah satu anggota keluarganya, sangat wajar ia sedih dan menangis. Tapi di luar itu, bukan termasuk prinsip. Jadi, apapun yang terjadi, ya biasa aja.

 

Kebahagiaan Itu Ada Kalau Kita Merasa Bahagia

“Masalah itu ada kalau kita merasa punya masalah. Kalau kita nggak ngerasa punya masalah, ya, masalah itu nggak ada.” Kalimat lain yang lagi-lagi membuat kami terdiam sesaat. Sama seperti konsep melihat masalah, bagi Pidi Baiq, kebahagiaan juga nggak memerlukan deskripsi yang pelik.

“Saya itu akan merasa bahagia kalau saya merasa bahagia. Saya juga sedih kalau saya merasa sedih. Jadi... supaya nggak sedih, ya, jangan sedih.” Selain itu, Pidi Baiq juga berkata bahwa ia akan merasa bahagia ketika orang lain bahagia. Sebaliknya, ia juga akan merasa sedih ketika orang lain sedih.

 

Hal yang paling penting dari merawat kebahagiaan ialah jangan mengganggu kesenangan orang lain. Setiap orang memiliki alasannya sendiri untuk bahagia, dan sangat tidak etis bagi kita untuk merusak kesenangan tersebut misal dengan menganggap remeh hal yang menjadikannya bahagia atau malah membuat kebahagiaan sebagai kompetisi. 

Berbicara tentang emosi lain selain kebahagiaan dan kesedihan, Pidi Baiq juga sedikit bercerita tentang dirinya yang tidak bisa marah kepada orang lain. Serupa dengan salah satu dialog tentang rindu oleh Dilan yang paling terkenal, “Bahkan ketika aku marah ke kamu, aku akan marah ke aku, karena kamu gak akan kuat.”

Setelah obrolan yang cukup panjang waktu itu, kini bagi kami Pidi Baiq bukan cuma urusan fiksi Dilan semata. Lebih jauh dari itu, melibatkan pemikiran dan perasaan yang ada ketika sunyi.

Citra Saras
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved