Sense of Belonging: Positive Possessiveness

Oleh: Annisa Hasna

Pernah nggak, sih, kamu secara sadar sepenuh hati menjaga, mencintai, melindungi, dan peduli akan suatu hal? 

Misalnya ketika kamu menyelesaikan pekerjaan dengan baik tapi bukan semata-mata karena dikejar deadline, takut sama atasan atau sekadar memenuhi kewajiban, melainkan karena memang kamu benar-benar mencintai pekerjaan yang dilakukan. Kalau kamu pernah merasakan hal yang serupa, it means you have sense of belonging to your work. 

Setiap orang pada suatu kelompok layak diterima, dilibatkan, dan didengar. Sense of belonging yang tepat dan tulus dapat menjadi pemicu seseorang melakoni peran di kelompoknya dengan sungguh-sungguh sehingga menjadikannya seorang yang unggul. But, how to build it?

 

Set the goals together and crush them together!

Menentukan tujuan kelompok dengan melibatkan setiap orang dapat memicu masing-masing individu memberikan kontribusi nyata karena merasa dirinya diterima dengan baik dan keberadaannya diakui oleh kelompok. Tapi, nggak berhenti sampai di situ! Masing-masing individu di dalam kelompok harus paham akan tujuan yang sudah ditentukan dan mengetahui apa saja yang harus ia lakukan.

 

Build trust

Kepercayaan merupakan salah satu penentu dari kinerja sebuah kelompok. Kepercayaan ini dapat memudahkan kerja sama antar individu di dalamnya karena mampu menekan rasa curiga terhadap masing-masing perilaku individu. Tidak adanya kepercayaan dalam suatu kelompok dapat mendorong hasil kerja yang nggak optimal. Kamu bisa memulainya dengan meluangkan waktu untuk mengenal masing-masing anggota dalam kelompokmu, bagaimana latar belakangnya, apa yang diminatinya, serta keterampilan apa yang dimilikinya. 

 

Give appreciation

Nggak melulu menyoal uang atau barang, apresiasi juga dapat dalam bentuk ucapan sederhana, karena bagaimanapun kontribusi setiap individu tetap punya peranan penting dalam keberhasilan kelompok. Dengan memberikan apresiasi, individu itu akan merasa diakui keberadaannya dan semakin semangat dalam mencapai tujuan bersama-sama. Apresiasi juga bisa memberikan motivasi bagi individu untuk bekerja lebih cerdas lagi.

 

But, how good ‘a sense of belonging’ is?

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang nggak dapat hidup sendiri serta membutuhkan peran dari individu lainnya. Tapi harus diakui juga, di era modern ini—di mana teknologi semakin berkembang pesat ternyata membuat hakikat kita sebagai makhluk sosial semakin tergerus. Therefore, nearly every aspect of our lives is organized around belonging to something.

Mau kamu seorang CEO, manager, ataupun staff, membangun sense of belonging dalam sebuah kelompok merupakan tugas bersama. Terciptanya sense of belonging akan membentuk  kelompok yang kompak karena terbangun dari individu-individu yang bekerja sepenuh hati. Melalui kelompok yang kompak ini, semua anggota kelompok lainnya akan mudah mencapai tujuan yang telah diatur sebelumnya, dan tentu saja ini bakal menguntungkan semua pihak.

Tanpa adanya sense of belonging, suatu kelompok akan sukar mencapai tujuannya. Karena tentu anggota kelompok nggak akan memberikan upaya yang optimal dan nggak bakal peduli kalau kelompoknya hancur. Jadi, bisa dikatakan bahwa sense of belonging adalah hal yang penting. Tapi, nggak jarang sebuah sense of belonging menjadi sebuah bumerang kalau porsinya kurang tepat.

 

Enough is balance

Hal-hal buruk terkadang terjadi di sebuah grup sosial. Yin and yang, di balik sense of belonging yang baik, di mana terdapat pertumbuhan pribadi dan pencapaian tujuan bersama, tentu akan ada kemungkinan terjadinya hal buruk seperti pemaksaan. Ketika salah seorang teman kamu merasa nggak bergairah untuk berkembang dan kamu memiliki sense of belonging yang amat sangat tinggi, maka yang terjadi adalah kamu akan memaksanya dengan nggak wajar. Boom! It will be a trap! Berbeda ketika kamu memiliki sense of belonging yang pas, kamu tentu bakal membantu mereka menemukan semangat baru dan memotivasinya.

 

So, bisa disimpulkan bahwa penting bagi kamu untuk menentukan porsi dari sense of belonging yang baik terhadap individu, grup sosial, rumah, atau bahkan tempat. Karena, tentu akan ada waktu di mana hal-hal menyebalkan terjadi, but you can control it when you put it into “enough.”  Because, too much isn’t good, except for one; champagne. Just kidding!

Tapi, jangan biarkan pemikiran seperti ini menambah ketakutan dan malah menghalangi kehidupan yang ingin kamu temukan atau ciptakan. At the end, the thing that you have to understand is "You're imperfect and you're wired for struggle, but you're worthy of love and belonging" -Brene Brown.

Annisa Hasna
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

...

Bagi Mereka, Pahlawan itu...

ALI YAUMIL
10 Nov 2021 | 1 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved