Kenapa Harus Peduli?

Oleh: Citra Saras

2 Maret 2020 kasus positif Covid-19 masuk dan dikonfirmasi di Indonesia. Sekarang, kita udah memasuki bulan Februari tahun 2021, yang artinya, hampir satu tahun lamanya, Covid-19 menetap dan hidup bersama kita.

 

Inget nggak, apa hal yang kamu lakukan pada hari itu? Kumpul bareng teman-teman, datang ke undangan pernikahan, menonton konser, atau lagi liburan? Kepikiran nggak, sih, kalau ternyata tanggal 1 Maret 2020 itu menjadi hari terakhir kita bisa beraktivitas dengan leluasa? Bisa ke luar rumah tanpa menggunakan masker, bisa bertemu dengan teman-teman atau keluarga besar tanpa perlu menjaga jarak, bisa menikmati konser di tengah kerumunan, dan nggak merasa parno dengan virus yang ada di sekitar.

Hal-hal yang tadinya kita pikir biasa, ternyata jadi hal yang sangat dirindukan ketika aktivitas serba terbatas kaya sekarang. Kini, anak-anak harus belajar di rumah dan nggak diperbolehkan untuk bermain bersama teman-temannya. Mereka harus bisa beradaptasi dan mengelola emosi agar proses belajar di rumah bisa berjalan lancar. Kita aja yang udah dewasa sering merasa muak kalau harus diam di rumah tanpa bersosialisasi dengan orang dalam hitungan yang lama, apalagi anak-anak? Proses eksplorasi dan sosialisasi mereka jadi terhambat, hal ini juga membuat orang tua harus lebih memutar otak.

 

Selain itu, banyak remaja yang terpaksa kehilangan momen-momen bersama teman-temannya, terutama mereka yang udah duduk di kelas 3 SMP atau SMA. Harapan menghabiskan tahun terakhir di bangku sekolah dengan bersenang-senang jadi bubar, ujung-ujungnya mereka hanya bisa bercengkrama melalui sambungan suara–atau paling mentok, video call/conference. Mahasiswa juga mengalami perubahan drastis dalam masa perkuliahannya. Selain proses belajar mengajar yang harus daring, kegiatan organisasi juga terpaksa terganggu, mau nggak mau mereka harus merombak rencana dari nol.

Belum lagi para mahasiswa tingkat akhir yang lagi menyusun skripsi. Kebayang nggak, tuh, pusingnya kayak apa harus mengerjakan sendiri di dalam rumah serta ditambah bimbingan yang nggak bisa langsung tatap muka? Setelah berhasil melewati sidang akhir, wisuda juga tetap harus dilakukan secara online. Bayang-bayang melempar toga bersama teman-teman di gedung atau lapangan perayaan wisuda juga terpaksa dihapuskan. Para alumni ini harus cukup berpuas hati dengan mendengar namanya dipanggil melalui layar laptop yang dibuka di atas meja.

Belum selesai! Masih ada pebisnis dan pekerja yang berjuang keras di tengah kesulitan ini. Nggak dipungkiri, sangat sulit untuk bertahan di tengah pandemi sehingga beberapa perusahaan terpaksa mengambil keputusan besar yang memberikan dampak bagi orang banyak. Seperti memotong gaji karyawan, memutus hak kerja, hingga menghentikan usahanya. Hal ini juga memberikan efek domino yang berimbas pada hajat hidup orang banyak. Belum lagi pikiran tentang khawatir membawa virus ke dalam rumah–jika masih Work From Office dan tinggal bersama keluarga.

 

Ada ketakutan yang sangat besar ketika Covid-19 baru masuk Indonesia. Orang-orang sibuk menggaungkan kampanye #dirumahaja dan melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Tapi, semakin lama, secara nggak disadari, protokol kesehatan di masyarakat semakin longgar, rasa takut juga mulai turun melihat banyaknya orang yang sudah berani berlibur–padahal seharusnya nggak seperti itu.

Tapi, syukurnya, kita udah mendapatkan berita baik; yaitu, vaksin yang akhirnya masuk ke Indonesia. Kemunculan vaksin ini masih menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Banyak pihak yang mendukung program vaksinasi, tapi masih ada juga yang memiliki trust issue terhadap program ini. Tapi, satu hal yang jelas; kalau nggak ada usaha, kita nggak bakal kunjung sembuh.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin, disusul oleh para anggota pemerintahan, tenaga kesehatan, serta public figure. Harapannya, setelah melihat banyak contoh, kita, sebagai masyarakat udah nggak bakal takut lagi untuk mengikuti program vaksinasi tersebut.

 

Ada pertanyaan, “Kalau udah divaksin, tandanya kita udah bebas beraktivitas tanpa perlu memerhatikan protokol lagi, dong?” Jawabannya, nggak. It’s a big big NO. Meskipun udah mendapatkan vaksin, kita tetap harus mematuhi protokol kesehatan 5M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas). Jangan karena udah menerima vaksin kemudian jadi merasa bebas dan malah merugikan orang lain, ya! Catatan lain, bersabarlah hingga ketika mendapat giliran untuk suntik vaksin.

Pada akhirnya, kepulihan Indonesia dari Covid-19 nggak bisa diusahakan sendiri, tapi harus bersama-sama. Apapun tujuan atau hal yang ingin dilakukan setelah Covid-19 usai, semoga kita bisa melaraskan langkah dan sama-sama berjuang keras hingga Indonesia kembali pulih, dan kita bisa beraktivitas seperti awal tahun 2020 lagi!

Citra Saras
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

...

Bagi Mereka, Pahlawan itu...

ALI YAUMIL
10 Nov 2021 | 1 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved