The Advantage of Speaking Ill: NONE

Oleh: Citra Saras

“Speak ill of no man, but speak all the good you know of everybody.”

- Benjamin Franklin

 

I read it once on one of my friend’s instagram bio, and it’s still ringing in my ear up until today; well, since then, my life has changed.

Kedengarannya sederhana, ya? Speak ill of no man, alias nggak perlu lah, ngomongin kejelekan orang, tapi speak all the good you know of everybody. Yup, karena setiap orang punya dua sisi: terang dan gelap, baik dan buruk. Kalau kita bisa ngomongin yang baik-baik, kenapa harus ngomongin yang buruk terus?

 

Dilansir dari sebuah tulisan di Medium, dengan judul “4 Things Emotionally Secure People Don’t Do” yang ditulis oleh Nick Wignall, seorang psikolog dan blogger, ia menyebutkan, kalau orang yang secara emosinya merasa aman nggak bakal sering mengkritisi atau membicarakan keburukan orang lain. Bener, sih, yang namanya kritik itu bagus, asalkan sifatnya membangun. Tapi kalau kritiknya cuma untuk menjatuhkan atau ngasih makan ego doang mending nggak usah. Sebelum kritik itu keluar dari mulut, mending kita telen dalam-dalam lagi. Lebih baik diam.

“We tend to projecting our insecurities to others’” kalimat ini juga cukup sering aku dengar. Misalnya, kita ngerasa kalau karya kita nggak bagus, terus kita malah mengkritik karya orang lain dengan bilang karya mereka kurang layak dan sebagainya; that’s when we know we are projecting our insecurities to others, itu juga merupakan salah satu kritik yang destruktif. Lalu kritik yang membangun itu kayak gimana, sih? Well, kalau kasusnya seperti tadi, you might give them some tips.

Kalau kamu bilang karya mereka buruk, kasih tau, dong, gimana caranya supaya mereka bisa berkarya dengan lebih baik lagi. Apa yang kurang, apa yang bisa diperbaiki, dan apa yang bisa kamu bantu untuk mereka. I think that would be so much better than to just point your finger to someone who has worked hard for something, no?

Kemudian, kasus yang sayangnya masih sering kejadian di sekitar kita adalah menjelekkan fisik orang lain. No, darling… Please don’t be like that. Semua orang terlahir dengan bentuk tubuh yang berbeda, warna kulit yang nggak sama, serta bentuk rambut yang beragam, and don’t you think it’s not wise to criticize someone’s appearance? Bisa aja orang yang fisiknya sering dijadiin becandaan itu punya hati yang teramat mulia, sering membantu, rutin sedekah, cerdas, menyenangkan. Nah, kalau ada sisi baiknya, kenapa harus fokus di sisi yang kita anggap kurang baik?

 

Selain mengurangi dosa, berhenti ngomongin kejelekan orang juga bisa membawa rasa damai ke diri dan hidup kita. Haemin Sunim, seorang Buddhist monk pernah menulis di dalam bukunya yang berjudul The Things You Can See Only When You Slow Down, yang berbunyi:

Ouch…

Merenung…

 

Well, I know it’s not easy to only see positivity in others’. Tapi hal seperti ini bisa dilatih, kok. It might be hard to control your mind, but you can control your mouth. Kalau berpikir buruk tentang orang, ya, udah, ada baiknya disimpan aja di dalam kepala, nggak perlu disebarluaskan. Dengan kaya gitu, kamu nggak cuma menjaga perasaan orang lain, tapi kamu juga menjaga kedamaian di dalam diri kamu sendiri.

Jadi, mulai hari ini, masih mau kalau diajak ghibah sama temen-temen? Are you sure?

Citra Saras
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved