Idhar Resmadi: Tentang Bandung, Musik, dan Menulis

Oleh: Annisa Hasna

Berbeda dengan Ayah Pidi Baiq yang bilang “Dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” Anak muda, distro, dan musik adalah definisi Bandung versi Idhar Resmadi.

 

Bandung memang selalu berhasil mencetak musisi-musisi hebat yang membanggakan, mulai dari Pure Saturday, Mocca, Bottlesmoker, Gaung, dan lainnya. Nah, ngomongin soal musik, nggak melulu tentang keterlibatan musisinya aja yang jadi highlight—adalah Idhar Resmadi, ia nggak dikenal sebagai musisi, tetapi ia memiliki andil yang besar dalam dunia kreatif Bandung dan sekitarnya. Siapakah Idhar Resmadi sebenarnya? Kali ini tim IDEABAKERS memiliki kesempatan ngobrol bareng Idhar Resmadi tentang menulis dan dunia subkultur—terutama Bandung—yang telah membentuk dirinya. Well, this is it...

Selain menjadi dosen, Idhar lebih dulu dikenal sebagai jurnalis dan penulis. Ripple Magazine, Rolling Stone Indonesia, hingga Pop Hari Ini sudah Idhar jajaki sebagai jurnalis. Selain itu, Music Records Indie Label (2008), Based on A True Story Pure Saturday (2013), Jurnalisme Musik, Selingkar Wilayahnya (2018), dan yang terbaru di penghujung 2020, Harry Roesli Si Bengal dari Bandung adalah buku-buku yang telah ia rilis. Inilah yang membuat Idhar memiliki pengaruh besar dalam perkembangan dunia kreatif, terutama di Kota Bandung!

 

Do What You Love, Love What You Do

Kalimat di atas rasanya benar-benar mewakili keberadaan Idhar Resmadi sebagai apapun ia hari ini. Idhar sudah menulis sejak SMP dan merasa jiwanya ada di menulis, sehingga apapun yang tengah dikerjakannya selalu bermuara ke creative writing yang mendalam/analitis. Namun, yang membuat kami tertarik ialah, seluruh tulisan Idhar Resmadi seperti membentuk dirinya sendiri–tulisannya specifically membahas tentang perkembangan subkultur. Ketika ditanya alasannya kenapa, ternyata sesederhana, “Karena suka.”

“Ada dua golongan waktu di kampus dulu. Pertama, yang suka hal-hal berbau sosial dan politik. Nah, biasanya mereka bakal bergabung di Persma. Kedua, mereka yang suka hiburan kayak musik. Nah, kalo saya termasuk ke yang kedua. Saya suka sama musik dan tumbuh di lingkungan itu, jadi, ya, saya milih bahas tentang itu,” jawabnya.

Ternyata, untuk melakukan hal yang dicintai dan mencintai hal yang dilakukan nggak melulu harus berlandaskan sesuatu yang besar. Kamu cuma butuh tiga hal:

  1. Kamu menyukai hal tersebut
  2. Hal yang kamu lakukan bikin kamu bahagia
  3. Konsisten

Kalau kamu mengikuti tiga poin itu dan mengerjakannya dengan serius, you will be someone, just like Idhar Resmadi.

 

Do More Than Love: Sense of Belonging

Hal menarik lainnya, saat wawancara berlangsung, terlihat betapa passionate-nya Idhar dengan dunia menulis dan musik yang ia geluti. Hal itu terlihat dari caranya bercerita tentang proses penulisan buku Harry Roesli si Bengal dari Bandung; if only you could see the sparks in his eyes! Ceritanya cukup menunjukkan betapa Idhar begitu peduli dan punya rasa memiliki yang tinggi pada lingkungan yang membentuknya hingga akhirnya hal tersebut menjadi bahan bakar utama Idhar untuk terus maju. 

“Harry Roesli itu legend bagi saya, sama kayak Koes Plus dan Iwan Fals. Selama ini ‘kan belum ada yang ngangkat tentang beliau. Padahal, dari bermusik, beliau konsisten membina pengamen jalanan, itu ‘kan hal yang besar, ya. Saya nulis buku ini selama kurang lebih 4-5 bulan termasuk laporannya, karena ini ‘kan proyek hibah dari pemerintah. Saya sempet stress dan bahkan ganti metode penelitian. Tapi, karena ada rasa tanggung jawab atas uang rakyat di dalamnya, saya berhasil menyelesaikan buku ini,” ujarnya.

Setelah kita mencintai hal yang kita kerjakan dan membuat kita bahagia, milikilah dengan kepedulian dan rasa tanggung jawab! Ini adalah bentuk pendewasaan selanjutnya. Dengan menaruh kepedulian dan berani bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan, berarti kamu secara nggak langsung udah memvalidasi bahwa hal tersebut adalah hal yang benar, sesuai, dan memiliki tujuan.

 

Setelah sesi perbincangan yang menyenangkan, kami menyadari bahwa di Bandung masih banyak anak muda dengan segudang karya yang membanggakan; juga melakukan hal tersebut dengan penuh cinta. Are you perhaps one of the talented youngsters too?

Annisa Hasna
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved