Stereotype Penampilan Bikin Segan

Oleh: Ayu K Putri

Wah, cowok berkacamata pake kemeja flanel, plus backpack super gede gini pasti kutu buku bin rajin nan cerdas. Punya kebiasaan nyari free working space buat aktif ikutan workshop dan seminar online demi ngumpulin bertumpuk-tumpuk sertifikat. Teman-teman ngajakin ngopi, sih, nomor ke sekian apalagi kalau nggak nambahin insight portofolio. Jangan lupa, ia juga selalu tertarik sama quote-quote motivasi dari para tokoh muda yang udah sukses dari sananya.

Beda sama cowok yang punya satu lusin kaos polos warna hitam, celana chino warna khaki dengan potongan rambut masa kini yang nggak bisa lepas dari pomade. Sepatu sneakers ala oldskool yang banyak dijual di marketplace jangan sampai ketinggalan. Biasanya hafal banget sama kedai kopi di hampir tiap kecamatan. Jaket denim sebagai pelengkap, ya... Barangkali hujan datang, yang penting rambut tetep aman.

 

Begitu, deh, kurang lebih sudut pandang kita terhadap orang-orang dengan penampilan tertentu. Otak kayaknya udah secara otomatis bikin label sendiri. Padahal, mah, kenal aja enggak. Hal ini biasanya terbentuk dari image yang kita dapetin di lingkungan sendiri. Misalnya lagi, nih, ketika ada cewek dengan baju khas crop tee, pake bucket hat yang nangkring dengan indahnya di atas rambut bondol warna neon, sneakers platform yang lumayan nambah tinggi badan, yaa... secara otomatis kita pasti mikir kalau dia ini adalah penggemar Korean Wave.

Hal ini sebenarnya bisa jadi keberhasilan mereka dalam mengekspresikan gaya; sebagaimana seorang penggemar musik yang nggak bosen pake kaos band idolanya dari album pertama sampai yang paling bontot. Karena setiap individu pasti punya karakter yang pengin ia bentuk di depan publik, salah satunya lewat penampilan. 

Dengan orang lain bisa bilang kita kutu buku, lah; k-popers, lah; atau bahkan anak senja; ini nggak terlepas dari cara kita mengekspresikan kecenderungan diri di hadapan orang lain.

 

Dalam sebuah artikel berjudul How to Express Yourself Through Fashion yang dilansir melalui dailyvanguard.com, pakaian yang kita kenakan adalah hal utama yang akan menentukan bagaimana orang lain akan berperilaku terhadap kita. Begitu juga dengan tipe aksesoris yang menjadi pelengkap penampilan, belum lagi pilihan warna yang dikenakan dapay menjadi pesan penting dari siapa kita dan seperti apa karakter kita.

Kalau kamu pecinta musik dangdut, tapi nyaman bawa-bawa totebag dengan t-shirt bergambar logo band independent, ditambah bucket hat polos sebagai statement, terus akrab sama gelang-gelang autentik dari kayu, juga lumayan kritis terhadap kapitalisme, ya – nggak apa-apa, dong! Pilihan selalu ada dan itu hak kita. Bebas! Wear what you wanna wear, darl!

Terlepas dari tepat atau nggaknya stereotype yang dibangun orang lain mengenai diri kita, harusnya, sih, nggak perlu ambil pusing! 

Karena faktanya nggak semua stereotype yang berkembang di lingkungan itu tepat. Kita juga harus lebih terbuka sama apapun yang sedang orang lain sampaikan lewat penampilannya. Kalau memang dengan begitu kita bisa nyaman dan percaya diri, ya, kenapa enggak? Jangan takut sama judgement dari society yang nggak akan bertanggung jawab sama pengeluaran dan cicilan kita! Hahaha...

Tulisan dari Maureen Campaiola berjudul How to Dress Authentically and Express Yourself Through Style mengaminkan hal itu.

Great style is all about expressing yourself and the easiest way to look and feel your best is to simply be yourself and wear what you love.

See? Your confidence is your best outfit!

 

Biar kita bisa tetap percaya diri dalam berekspresi lewat penampilan, here are the tips to embrace your authentic styles!

Go with What You've Got

Ini adalah bagian penting biar kita bisa menerima diri sendiri. Dengan beragamnya bentuk wajah, bentuk tubuh, sampai jenis rambut; kita, tuh, justru bisa dengan mudah menyesuaikan apa yang pengin kita kenakan. Misalnya, bagi cewek berpinggul besar, nggak perlu khawatir lekukan tubuhnya kurang terlihat, tinggal pilih aja baju dengan potongan yang tepat atau dengan mix ‘n match game. Jadi, pakaiannya yang disesuaikan, bukan sebaliknya, lho... stop blaming your true beauty!

Ignore Trends

Khusus bagian ini kayaknya bakal susah buat orang-orang FOMO (Fear of Missing Out), karena sebenarnya kita nggak perlu selalu ngikutin tren yang ada kalau itu “nggak kita banget”. Jangan demi ngikutin tren fashion yang lagi rame, kita jadi nggak nyaman, nggak percaya diri, dan malah nggak bisa mengekspresikan diri kita yang sebenarnya. 

Know Your Colors

“Orang berwarna kulit sawo matang lebih cocok menggunakan pakaian berwarna…” dan bla...bla...bla lainnya yang serupa adalah sebuah border yang ganggu. Kita pasti punya selera dan pilihan yang menurut kita paling sesuai. Selama itu nggak merugikan orang lain dan kita percaya diri, mah, sikat aja! Mau monokrom kek, mau warna pastel kek, mau warna neon pun, go for it! Wear what you love instead! 

Selama bukan baju bole nyolong dari jemuran tetangga dan tetap santun sesuai dengan tempat, sih, nggak perlu ragu dan khawatir!

 

Image yang kita bangun di mata orang lain, biarlah jadi hak mereka. Satu hal yang harus kita ingat, kita juga punya hak buat secara bebas membangun karakter diri sendiri. How they perceive us is another different story. 

 

Last but not least, “Have the courage to let go of trends, forget what the fashion magazines are telling you and ignore any beauty standards that you don't feel measure up to who you truly are.”

Ayu K Putri
Attracted to words and everything in between
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved