Punya Body Image Negatif Gara-Gara Socmed? No Way!

Oleh: Mita Aulia Hakim

Beberapa waktu lalu, dua orang juri di acara Indonesia’s Next Top Model menjadi perhatian dunia maya karena komentarnya terhadap salah satu kontestan. Dia bercerita tentang isu mental yang pernah dihadapinya, yaitu eating disorder, sebuah gangguan makan yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Lalu, kedua juri tersebut mencibir kenapa peserta yang notabene-nya adalah seorang model, cantik, pintar, dan punya badan bagus pernah depresi. 

Cibiran ini akhirnya banyak dikritik oleh publik, mulai dari audiens umum, penderita eating disorder, hingga psikolog. Kedua juri tersebut dibilang nggak peka sama isu mental yang banyak dialami orang-orang tanpa pandang bulu.

 

Sebenernya, apa yang dialami sama kontestan Indonesia's Next Top Model ini bisa berawal dari body image yang negatif. Pekerjaannya sebagai model menuntut ia untuk punya badan yang ideal, dan bisa aja ia mengalami fase-fase di mana ia merasa kurang puas dengan bentuk tubuhnya sendiri.

Dilansir dari The British Psychological Society, Professor Carolyn Mair PhD mengatakan adanya risiko self-esteem yang rendah dan gangguan mental akibat body image yang negatif. 

 

Nah, memang apa, sih, body image itu? 

Menurut Thomas F. Cash, seorang psikologi klinis dan peneliti di bidang psikologi fisik, body image merupakan persepsi, pikiran, perasaan dan tingkah laku seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Hal-hal tersebut bisa mempengaruhi perilaku seseorang. Body image ini bisa saja positif, negatif, atau bahkan gabungan dari keduanya karena dipengaruhi faktor individu dan faktor lingkungan. 

Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, sadar nggak sadar, pasti punya body image-nya versi mereka. Coba, deh, inget-inget lagi awal masa puber. Pasti ada sebagian dari kita yang ngalamin jerawatan. Rasanya, mau ngapain aja jadi nggak pede. Apalagi, kalau naksir lawan jenis, terus gagal, kita cenderung nyalahin fisik yang lagi nggak oke. Belum lagi, kalau jerawatnya berbekas lama. Makin insecure, deh! Padahal, jerawatan karena proses puber itu normal banget! 

Ternyata, ada satu faktor penting yang membuat kita bisa memiliki body image negatif atau positif. Yup! It’s beauty culture and standards! 

 

Setiap negara, budaya, dan generasi di masyarakat punya standar kecantikan atau tren masing-masing. Tentunya, hal ini nggak berlaku secara tertulis. Contoh, standar kecantikan perempuan itu harus kurus, putih, mulus bak model majalah. Atau yang paling terbaru, standar cantik itu harus glowing kayak aktris Korea. Buat yang laki-laki, misalnya, punya badan berisi, kalau bisa kekar berotot. Semua standar ini, nggak lepas pengaruhnya dari peran media, baik konvensional, maupun media sosial.  

Instagram, Facebook, Pinterest, TikTok, dan media sosial lain dengan basis sharing foto dan video punya pengaruh terhadap gimana kita memandang tubuh sendiri. Nggak jarang, kan, lihat postingan influencer, artis, atau temen sendiri yang punya body goals atau wajah mulus kemudian jadi berpikir pengin juga, deh, kayak mereka… Secara nggak sadar, tiba-tiba insecure lagi, deh, kita.

Nggak hanya lewat media, lingkungan kita, seperti keluarga atau teman-teman juga punya pengaruh untuk menginternalisasi nilai-nilai beauty standard pada masing-masing individu. Misalnya, nggak jarang orang-orang terdekat ini komentar soal kenapa gendutan, kenapa kurusan, kenapa jerawatan, dan kenapa-kenapa lainnya soal tubuh kita. 

Sebenernya, boleh aja, kalau kita termotivasi buat memperbaiki diri setelah lihat postingan body goals di sosmed atau setelah dapat komentar dari circle kita. Tapi, make sure you do that to please yourself, ya. 

 

Here’s some tips if you still can’t get rid of negative thoughts about your body!  

First, put down your phone for a while

Coba deh, luangin waktu beberapa jam pas weekend untuk nggak ngecek handphone. Ganti kegiatan yang meminimalisir untuk banding-bandingin fisik sendiri dengan orang lain. Contohnya, olahraga, masak, atau quality time sama keluarga dan orang-orang tersayang. 

 

Next, choose wisely what and who you follow

Kita bisa banget, pilih-pilih konten mana atau konten siapa yang mau kita lihat di timeline social media. Mute kata kunci yang bikin kita triggered dan follow konten dengan topik beragam, misalnya makanan, foto-foto pemandangan, binatang-binatang lucu, dan lain-lain.  

 

Last, but not least:

Let’s take care of ourselves, but don’t be too hard on yourself! 

Mita Aulia Hakim
Exploring words as a Creative Account Officer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved