10 Harsh Truths About Growing Up

Oleh: Citra Saras

I know growing up could feel crazy sometimes. But hey, hang in there, because we are all in this together, aren’t we?

 

*Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan observasi terhadap lingkungan sekitar. It’s good if you can relate, but if you can’t, it’s okay too.

 

Sometimes, we don’t know where to go…

Pernah kepikiran nggak, sih, waktu sekolah, kita tau kalau tujuan akhir kita adalah lulus dan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Waktu kuliah, kita tau tujuan akhir kita ialah sidang skripsi, wisuda, lulus, kemudian melanjutkan S2 atau cari kerja.

Ketika kerja, apa tujuan akhir kita? Kapan dan di mana kita bisa dibilang telah sampai pada titik akhir? Setelah ini, mau apa? Menikah? Berbisnis? Lanjut kerja sampai usia pensiun? Apa?

 

We need to look fine every morning

Kamu mungkin pernah diputusin malem-malem, menghadapi kematian hewan peliharaan, punya masalah di lingkup pertemanan atau di rumah, banyak pikiran dan merasa hidup lagi kacau-kacaunya. Tapi, di pagi harinya, don’t we still need to look fine? Malam boleh merasa menderita, tapi pagi, harus tetap ceria. Karena dunia profesional kadang nggak memberikan cukup waktu dan ruang untuk perasaan personal–tapi, kalau lingkungan kerja kamu memberikan pengertian yang cukup bagi kamu untuk merasa, then, congrats! Itu merupakan privilege yang nggak boleh kamu sia-siakan; tetep inget sama tanggung jawab, ya, jangan sampai lepas.

 

Most of thing does not make sense sometimes

I bravely place a bet kalau kamu pernah menghadapi situasi yang bikin “Hah?” “Apa, nih?” “Does this even make sense???” Well, the answer is  probably not. Tapi memang banyak hal nggak make sense. Kadang meskipun kejadian itu nggak make sense di kepala kita, kita harus bisa menerima dengan cepat dan langsung fokus ke solusi aja tanpa perlu menggali lebih dalam tentang why-nya, karena masih banyak hal lain yang jauh lebih penting menanti untuk ditemui dan dikerjakan. Kecuali, if that really matters for you, then you should fight for it.

 

No one told you what to do

There’s no manual book for growing up. Nggak ada aturan atau cara yang bener-bener saklek tentang bagaimana caranya menjadi orang dewasa yang baik dan bijak, yang ada hanya trial and error, belajar langsung di lapangan dan asumsi dari lingkungan sosial.

Jadi nggak perlu terlalu khawatir kalau kadang kamu merasa lost, nggak tau harus ngapain, nggak tau harus jalan ke mana. Because in the end, eventually you belong to where you are supposed to be. Mungkin di masa-masa kebingungan itu kamu sering curhat sama keluarga atau temen, atau juga googling “Cara menjadi orang dewasa yang bijak” “Cara bertumbuh dengan baik” yes, nggak ada yang salah tentang hal itu, tapi, jangan sampai kamu merasa ciut karena apa yang mereka tuliskan nggak sesuai dengan apa yang kamu jalani, karena belum tentu hal yang works untuk mereka, akan works juga buat kamu, pun sebaliknya.

 

If you can’t fight, stay still and have patience

This is what I learnt lately.

Kalau kamu punya kemampuan untuk melawan (dengan catatan menggunakan logika dan tidak berlaku kasar) then go for it. Tapi, kalau kamu rasa kamu nggak punya kemampuan atau nggak ingin melawan, I suggest you to sit still and have patience because some things don’t deserve your energy. Jadi ngapain bikin capek diri sendiri buat hal yang cuma bikin emosi?

 

You think you have to know it all. Well honey, you don’t...

“Udah umur segini masih nggak tau passion aku apa…”

“Kenapa, ya, aku masih nggak paham sama jalan pikir orang kayak gitu?”

“Ah, harusnya umur segini gue udah paham soal ini!”

Tenang. Proses belajar itu terus berlanjut selama kita hidup. Kamu nggak mesti tau semuanya hari ini. Kamu nggak perlu paham tentang segala hal sekarang juga. Knowing that you do something to gain knowledge everytime is admiring too.

 

Endless questions about “Whennn???!!”

Pasti udah nggak asing, dong, dengan pertanyaan “Kapan kerja?” “Kapan punya pacar?” “Kapan nikah?” Kalau pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditukar dengan Rupiah, so pasti kita semua udah kaya raya sekarang.

Satu hal yang perlu dipahami, urutan hidup itu nggak melulu lahir –> sekolah –> kuliah –> bekerja –> menikah –> punya anak –> punya cucu –> kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa, nggak. Mungkin urutan tersebut adalah urutan yang dianggap ideal di masyarakat, tapi, nggak semua orang harus selalu mengikuti standar ideal yang dibuat di lingkungan sosial, kan?

 

You can’t please everybody

Another bitter pill to swallow.

As we only have two hands, we can not do everything for everybody. Pun ketika kita udah merasa melakukan sesuatu yang baik untuk seseorang atau bahkan orang banyak, bisa aja respons yang diterima nggak sesuai dengan ekspektasi yang kita punya. Why does he hate me? Why does she talking bad behind my back? What have I done wrong? Why can’t everybody like me?

Terima aja… Pada hakikatnya kita emang nggak selalu bisa bikin seneng semua orang. Mau kita udah mengorbankan seluruh waktu, energi, jiwa, dan raga untuk melakukan yang kita anggap terbaik juga kemungkinan besar masih akan ada aja orang yang melihat kita dengan pandangan yang nggak terlalu baik. Gapapa… Terima aja.

 

You need to make brave decisions from time to time

Kalau kata lirik lagu Bimbang milik Melly Goeslaw yang lagi ramai di Tiktok, “dalam anganku aku berada di suatu persimpangan jalan yang sulit kupilih.” Ini bukan cuma tentang romansa atau kisah cinta anak remaja, tapi, kondisi kayak gitu pada nyatanya emang cukup sering terjadi di kehidupan kita sebagai orang dewasa.

Logika sering berantem sama hati. Si logika bilang, “Ambil aja kesempatannya! Kamu butuh uang untuk hidup, kan?” Sementara hati berkata sebaliknya, “Lho, tapi ini kan nggak sesuai hobi dan passion aku? Masa aku harus maksain diri, sih?” Logika memberikan serangan balik, “Ini bukan waktu yang tepat buat mikirin passion. Kamu itu lagi butuh!” Kemudian hati, “Tapi…”

Sebagai pemilik keduanya – hati dan logika, kamu lah yang punya peran untuk mengambil keputusan akhir. Kadang pilihannya sulit, atau konsekuensi dari pilihan itu bisa terasa berat, tapi, ya, gimana? We need to make decisions anyway, kan?

 

Life could get unfair sometimes

“Kenapa, sih, kok saya dikasih kesulitan terus menerus, ya? Padahal saya udah berjuang, lho.”

“Kenapa kok apa yang saya lakukan selalu dipandang salah, ya? Padahal saya udah mencari tahu banyak tentang apa yang akan saya lakukan, lho. Kok saya tetap salah?”

“Nggak adil banget aku yang udah belajar mati-matian nggak lolos ke perusahaan X, sementara temenku yang dari jaman kuliah sering bolos bisa lolos???”

Hah… Emang gitu, sih, hidup kadang-kadang. Rasanya nggak adil, ya? Tapi percaya, deh, namanya rezeki pasti udah ada yang ngatur. Jangankan rezeki, daun jatuh dari pohonnya aja, itu udah diatur. Jadi, tetap tenang. Ok?

 

Kembali mengutip dari lirik lagu yang kali ini dituliskan oleh John Mayer dengan tajuk Stop This Train, “I’m so scared of getting older, I’m only good at being young. So I play the numbers game to find a way to say my life has just begun.” Sesuai judulnya, kadang kita pengin memberhentikan apa yang sedang berjalan. Tapi, hey, nggak bisa. Jadi, semangat, yuk? Dijalanin pelan-pelan, nggak perlu selalu ngebut, yang penting selamat sampai tujuan.

 

Kok tulisan ini nggak memberikan solusi yang tepat atas permasalahan-permasalahan orang dewasa yang ada, sih? Ya emang nggak… Because  I’m in the same struggle as you guys who happened to read this writing. I’m still trying to figure out a lot of things too.

 

Well, anyway, good luck on your growing up process! Cheers!



Citra Saras
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved