Sustainability Sama Dengan Gaya Hidup?

Oleh: Annisa Hasna

“Sustainability is not a trend, it’s a change.” they said.

 

Ngomongin soal sustainable, kamu tau nggak, sih, kalau ternyata fashion menjadi penyumbang terbesar sampah di dunia setelah plastik?

Yaa, seperti yang bisa kita lihat sendiri, fashion jadi bagian yang nggak bisa dilepaskan dari seorang insan, karena mau gimana pun juga, gaya berpakaian menjadi sebuah awal dalam menilai seseorang, kan?

Tapi, gimana kalau hal ini malah menjadi malapetaka di masa depan?

 

Kali ini tim IDEABAKERS berkesempatan untuk ngobrol tentang sustainable living and the awakening point bareng Intan Anggita Pratiwie, seorang seniman daur ulang, praktisi sustainable, dan co-founder Setali Indonesia—at least, that's what it says on her LinkedIn. JK.

So, let's get closer to her!

 

Buah Jatuh Nggak Jauh dari Pohonnya

Hidup dan tumbuh di Tasikmalaya, sejak kecil Ayah dan Ibu Intan sudah memperkenalkan Intan tentang bagaimana memaknai “cukup” yang sesungguhnya.

“Dulu, tuh, aku dan keluarga seminggu sekali suka keliling riset bakso di Tasikmalaya. Mana, ya, yang enak? Terus, kita ‘tuh udah tau kalo kapasitas kita itu, ya, setengah porsi. Jadi, kita nggak pernah makan lebih dari itu,” cerita Intan.

Disadari atau nggak, ternyata apa yang orang tua Intan ajarkan melekat pada dirinya dan menjadi pondasi yang kemudian membentuk siapa Intan saat ini. Her parents surely taught her a good lesson.

 

It Just Comes from Within..

Tumbuh dengan berbekal “cukup”, Intan dewasa menjalani harinya dengan normal selayaknya orang pada umumnya—passionate and confident. Tapi, ada satu yang menarik perhatian kami di tengah interview; ternyata semua yang Intan lakukan is about extending something. Mulai dari mempertahankan Lokananta (label musik pertama di Indonesia) hingga kini ia menggeluti dunia sustainable fashion bersama Setali Indonesia.

“Aku justru nggak sadar apa yang aku lakuin selama ini ‘tuh sustainability dan aku nggak pernah melabeli diri. Ketika dilakukan dengan passionate, kita ‘tuh bisa melakukannya tanpa sebuah label. Ya, dengan batin merasa “cukup” itu aja bekalnya,” ujarnya.

 

Judge to Improve not to Humiliate

Ternyata seorang Intan yang udah lama terjun di dunia sustainability juga pernah di-judge orang, loh! Tapi, di sini Intan nggak nelen mentah-mentah gitu aja omongan orang lain tentang dirinya, dia lebih memilah omongan-omongan yang masuk ke telinganya. Ketika ada orang yang nge-judge tentang Intan ke orang lain atau ke luar, bagi Intan ini hanya fase hidupnya aja. Tapi, ketika ada judging yang masuk langsung ke dirinya, Intan akan menganggap ini sebagai refleksi diri untuk kemudian menjadi bahan renungan dan introspeksi.

“Sebenernya ketika ada orang nge-judge atau ada gesekan dari orang lain itu kita harus ngerefleksi ke diri kita, lagi ditunjukkin apa sih yang harus kita bersihin di baggage kita, gitu...” katanya.

Well, kalau ngurusin omongan orang tentang diri kita itu emang nggak akan ada habisnya, ya? Tapi, kami setuju banget, sih, sama Intan. Ketika ada omongan yang langsung masuk ke diri kita alias nggak muter dulu ke orang lain ’tuh emang perlu diperhitungkan. Why? Karena itu bisa jadi tanda kalau orang yang ngomongin kita care sama kita dan ingin kita improve menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

 

Who Are You?

Setiap orang tentu harus punya label diri—siapa, sih, kamu sebenernya? Apa, sih, yang kamu kerjain? Dokter? Penulis? Dosen? At least you need it for your own LinkedIn. Setiap orang bisa melabeli dirinya sendiri menjadi apapun itu yang diinginkannya. Tapi, tidak semudah itu, ferguso! Untuk bertahan di dunia yang ingin kamu geluti, society tentu butuh bukti nyata bahwa kamu memang ada dan mewakili dunia yang kamu pilih.

“Gua sadar gua butuh base, jadi, sebenernya sebelum kita labeling, kita emang harus punya karya. Harus punya base yang orang akhirnya kesaring dan keundang. Orang bisa mem-branding dirinya sendiri untuk menjadi apapun itu. Tapi, dengan adanya sebuah base atau karya itu ‘tuh just put your soul aja gitu,” kata Intan.

Nah, kaaaaan… Labeling diri itu emang gampang, tapi, bisa nggak kita bertanggung jawab sama itu? Makanya, setelah kita melabeli diri, penting bagi kita untuk membuat karya sebagai bukti bahwa kita memang ada di situ. Setelah itu, orang-orang pasti akan tersaring dengan sendirinya.

 

We had a very pleasant and meaningful interview with Intan. And we learn, apapun yang dikerjakan dari dalam hati dan dijadikan habit akan membuahkan hasil yang nggak main-main di kemudian hari. Meskipun dampaknya kecil bagi dunia, at least hal yang sedang kamu lakukan bisa mengubah dunia sendiri dan lingkunganmu. So, don’t ever stop and let your works speak louder! And we think, sustainability is not a lifestyle, it’s more of way of life. 

Cheers!



Annisa Hasna
Writer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved