Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni Pantomim

Oleh: Ali Yaumil

Pernah lihat orang dengan wajah berwarna putih, mimik yang ekspresif serta gerakan yang kadang bikin kita bertanya-tanya, “Lagi ngapain, sih? Maksudnya gerak kaya gitu apaan, sih?” Biasanya, hal-hal yang dideskripsikan sebelumnya suka ada di film-film dengan latar belakang Eropa, atau jadi peran yang unik di dalam suatu adegan. Orang-orang itu disebut dengan pantomim atau Mime Artist.

Pantomim adalah seni adegan yang tidak bersuara/tidak memakai vokal sebagai alat komunikasinya. Diambil dari bahasa latin pantomimus yang artinya meniru segala sesuatu, kesenian pertunjukan ini fokus pada mimik wajah dan gerakan dengan tujuan menirukan atau mengekspresikan sesuatu melalui gerakan. Kalian pasti pernah setidaknya sekali mendengar nama Charlie Chaplin atau Marcel Marceau. Mereka merupakan Mime Artist yang ternama di dunia. Kalau di Indonesia, kita punya Wanggi Hoed dan Dwi Cahyo yang gencar mempopulerkan seni pantomim.

Kali ini, IDEABAKERS berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Wanggi Hoed melalui satu video yang dipersembahkan untuk Indonesia. Wanggi Hoed sudah menggeluti dunia pantomim selama 17 tahun dan sukses membuat berbagai macam karya. Lewat berpantomim, Wanggi bercerita, melalui pantomim, ia merasa bebas berekspresi dan menuangkan apa yang ingin ia suarakan melalui gerakan.

 

Berawal dari tayangan televisi hingga tampil di berbagai kondisi

Diawali dengan menonton tayangan pantomim di televisi pada masa Sekolah Dasar, Wanggi saat itu langsung merasa tertarik untuk belajar lebih dalam. Ia nggak membiarkan cita-citanya berakhir di masa Sekolah Menengah Atas.

Tanpa rasa takut, Wanggi terus melaju dengan menguji coba tubuhnya ke level yang tidak terpikirkan oleh orang lain, seperti melakukan penampilan-penampilan di gunung, hutan, kuburan, atau gedung tidak bertuan. Wanggi selalu senang bersatu dengan alam karena pada saat itu, ia mempunyai kesempatan untuk merespon apapun yang ia lihat dan sentuh.

 

“Berpantomim adalah salah satu cara saya untuk merawat kreatifitas.”

Bagi Wanggi, pantomim adalah harta karun seni pertunjukan dan sumber kebahagiaan paling utama. Tapi, seperti seniman lain yang pasti pernah setidaknya sekali terbentur rasa bosan atau malas, Wanggi juga pernah merasakannya. Namun, kegemaran di dalam dirinya mampu mengalahkan itu semua. Seolah sudah menjadi satu dan tak terpisahkan dengan pantomim, ketika ia lama tidak melakukannya, badannya akan terasa tidak enak seperti kehilangan fungsi yang biasa dijalani. 

 

“Hidup itu perjalanan, bukan pelarian…”

Salah satu ucapan dari Wanggi yang membuat kami berhenti sejenak dari proses interview. “Di era yang serba maju ini, kita harus terus merespons semua percepatan yang terjadi, tapi nggak usah buru-buru buat merespons apa yang ada di sekeliling kita. Nggak perlu untuk selalu lari, jalan aja. Karena hidup itu kan harusnya dijalani, bukan dijadikan pelarian.” Ungkapnya, menguak salah satu prinsip untuk menikmati hidup pada setiap detiknya.

Dalam video wawancara ini Wanggi bercerita tentang dirinya, pantomim, dan harapan seni pantomim di Indonesia. Ingin tahu lebih banyak tentang Wanggi? Simak video hasil kolaborasi IDEABAKERS bersama Wanggi Hoed dan Under The Big Bright Yellow Sun di bawah!



Ali Yaumil
Creative Account Officer who swerve from a Graphic Designer to a Copywriter. Always wearing something yellow.
OTHERS

...

Wanggi Hoed dan Kehidupan Seni...

ALI YAUMIL
13 Oct 2021 | 5 minutes to read

...

Sustainability Sama Dengan Gay...

ANNISA HASNA
01 Sep 2021 | 4 minutes to read

...

10 Harsh Truths About Growing...

CITRA SARAS
22 Aug 2021 | 4 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved