Learn to Unlearn in a Fast-paced World

Oleh: Mita Aulia Hakim

Intelligence is what we learn, wisdom is what we unlearn.

— J.M. Rim  

Pernah nggak lihat tweet lama orang terkenal yang di-quote orang lain? Atau baca tulisan lama temen di blog pribadinya? Biasanya, tweet, tulisan, atau opini mereka jauh berbeda dari image-nya sekarang. Orang mungkin secara serta merta bakal nge-judge konten yang mereka lihat itu. Tapi, ada hal yang nggak mereka sadari; bahwa seseorang bisa berubah, dan nilai atau pengetahuan yang mereka miliki di masa lalu bisa aja sudah melalui unlearning process.  

Nggak usah jauh-jauh orang terkenal, deh. 10-15 tahun yang lalu mungkin kamu pernah nge-tweet galau parah sampai nggak mau makan seminggu gara-gara diputusin pacar, terus, ketika kamu baca lagi sekarang, kamu baru sadar bahwa apa yang kamu lakukan dulu itu nggak banget. Baik dari perilaku mogok makannya, maupun dari cara kamu nge-tweet. Atau kamu pernah bikin status Facebook tentang betapa sebalnya kamu dilarang ini itu sama orang tua, tapi ketika sekarang kamu beranjak dewasa, kamu paham sendiri, bahwa yang orang tua kamu lakukan itu bukan melarang, melainkan menjaga. Itu dua contoh kecil dari process unlearning.

So, what is unlearning?

Unlearning tuh  sebuah  proses mengeliminasi pengetahuan atau nilai-nilai lama. Simpelnya, kebalikan dari learning. Kalau belajar, kita menyerap ilmu-ilmu baru, sementara unlearning atau dalam arti harfiahnya berhenti belajar, kita mengurangi ilmu-ilmu lama. Learn and unlearn itu kayak dua sisi di satu koin; dua hal yang berbeda tapi nggak bisa dipisahkan.

Semua pengetahuan yang kita pelajari di masa lalu berpengaruh sama nilai, cara berpikir, dan cara bersikap kita sekarang. Semakin bertambah usia dan bertemu banyak hal-hal baru, semakin kita belajar bahwa ada beberapa ilmu lama yang sudah nggak sesuai atau valid dengan apa yang kita pahami serta percayai sekarang, apalagi di zaman sekarang yang serba digital. That’s when unlearning took the stage. Kita emang nggak bisa bener-bener eliminate ilmu atau pemikiran lama yang kita punya dan mulai dari blank page. Tapi, kita bisa mengurangi pengaruhnya. Terus, kita jadi siap, deh, buat belajar ilmu baru.

But, you need to take note that unlearning is different from forgetting. Forgetting itu alamiah, artinya pengetahuan yang kita punya bisa secara gak sadar memudar. Sementara unlearning itu hal yang kita lakukan secara sadar. 

Now, how does unlearning work? 

Menurut Mark Bonchek dalam sebuah artikel di laman Harvard Business Review, ada tiga tahap unlearning:

  1. Irrelevant knowledge

Pertama, kita harus sadar kalau pengetahuan atau pemikiran yang kita punya sudah nggak relevan. It’s not easy. Of course, karena kita biasanya gak sadar sama pemikiran atau nilai-nilai yang kita pegang. Belum lagi, kita kadang takut buat ngelepas hal-hal lama yang sebenarnya sudah ngebangun diri kita yang sekarang. Memulai sesuatu dari awal juga bikin insecure soal masa depan. 

  1. Find a new model

Nah, setelah sadar kalau pengetahuan yang kita punya sudah nggak relevan, cari dan pelajari ilmu baru yang sesuai dengan goals hidup. Awalnya, mungkin kita masih melihat ilmu baru dari kacamata yang lama. But, no worries! Good things take time.  

  1. Flood with new mental habit

Already found a new model? Let’s flood it into our day! Prosesnya nggak jauh beda ketika kita memutuskan untuk membangun kebiasaan baru kayak diet atau olahraga. Buat progress tiap hari walau cuma sedikit. Di tengah jalan, godaan untuk balik lagi ke pemikiran lama pasti ada. It’s okay! Itu justru berguna biar kita bener-bener sadar lagi belajar pengetahuan baru. 

Let’s take an example. 

Ada seseorang yang semasa SMA-nya berpikir kalau orang yang kuliah di jurusan sastra Indonesia itu nggak berguna. Buat apa sih belajar bahasa ibu yang kita pakai sehari-hari. Emangnya ada prospeknya, ya, setelah lulus? Begitu yang dia pikirkan dulu. Nah, setelah dia kuliah di fakultas yang sama dengan jurusan sastra Indonesia, dia ketemu banyak teman dari jurusan ini.  Terus, dia jadi sering ngobrol dan diskusi soal mata kuliah yang dipelajari. Ternyata, belajar sastra Indonesia itu nggak gampang. Apalagi kalau sudah bahas linguistik atau tata bahasa yang kadang kita pun sering salah penggunaannya. Akhirnya, dia sadar untuk nggak menggampangkan suatu hal. Dia sadar juga kalau pemikirannya yang dulu itu nggak valid.     

People are always changing; and so do their minds. In the fast-paced digital era, unlearning itu skill yang penting banget buat kita catch-up dan berkembang. It’s absolutely fine to change our opinions from time to time. Menghapus nilai atau pemikiran lama nggak serta merta membuat kita jadi orang lain. Justru, kalau pemikiran kita gak pernah berubah, artinya kita gak pernah belajar. 

Oh, another important note, you can’t judge someone based on their past. Karena apa? Yes! Karena bisa jadi mereka sudah mengalami proses unlearning yang nggak mudah sampai mereka membentuk dirinya yang baru di hari ini.

So fellas, enjoy your learn and unlearn process!



Mita Aulia Hakim
Exploring words as a Creative Account Officer at IDEABAKERS
OTHERS

...

Sumber Kehidupan itu adalah Ib...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
22 Dec 2021 | 1 minutes to read

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved