Bermain-main dengan Memoar di Solo Photo Festival 2021

Oleh: Puti Cinintya Arie Safitri

Perjalanan dari Bandung menuju Solo terasa sangat lambat sekali. Disambut hujan dalam perjalanan di Cilacap dan berpuluh lagu yang diputar, akhirnya kami sampai. Aku melangkah malu-malu kucing, masuk ke dalam gedung fakultas tempat gelaran Solo Photo Festival 2021. Bagaimana tidak, aku merasa sangat tua sekali diantara anak-anak angkatan tahun 2019-an yang berkerumun di sekitar. Mereka tampak kinyis-kinyis dan juga keren, karena mampu menghelat acara sekaliber internasional ini.

Solo Photo Festival 2021 sendiri merupakan sebuah perhelatan fotografi tahunan yang diadakan oleh Prodi Fotografi ISI Surakarta, di bawah tanggung jawab Himpunan Mahasiswa Fotografi (HIMAFO) ISI Surakarta. Di ajang bergengsi ini, tema yang diangkat adalah 'Memoar'. Tema ini sendiri berusaha menceritakan memori yang berupa catatan atau kenangan, bisa diartikan juga sebagai sebuah ingatan dari diri seseorang ataupun memori terkait lingkungan, tempat tinggal, dan ruang di sekitarnya.

Pada pelaksanaan Solo Photo Festival 2021 ini, dipilih tiga orang kurator yaitu Damar Jati (alumni ISI Yogyakarta), Purwastya Pratmajaya (dosen Fotografi ISI Surakarta) dan Rizqi Qadarsyah Dike Betawi (mahasiswa Fotografi semester akhir di ISI Surakarta). Mereka berhasil meloloskan sebanyak 60 karya fotografi dari beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Surakarta dan Yogyakarta. Kebetulan, aku berkesempatan untuk ngobrol dengan salah satu kuratornya, yaitu Rizqi atau yang akrab dipanggil Qibo.

Aku bertanya, adakah alasan dari pemilihan tiga kurator yang bervariasi latar belakangnya? "Pemilihan kurator ada dosen dan ada mahasiswa. Kalau dari dosen luar untuk menunjang ilmu di luarnya, (supaya bisa) berbagi di dalam SPF ini. Kalau untuk dosen internal lebih untuk membantu narahubung ke mahasiswa. Pemilihan (perwakilan) mahasiswa diproyeksikan untuk belajar suatu saat menjadi kurator. Tujuan utamanya ingin menampilkan seniman-seniman muda untuk bisa tampil di festival,” jawab Qibo.

Proses kuratorial sendiri dimulai dengan membuka open submission dan proses kurasinya terjadi secara daring. Tiga kurator terpilih menyeleksi foto-foto yang masuk melalui open submission. Ada sekitar 70 karya yang ikut berlaga dalam proses kurasi, yang kemudian meloloskan 25 karya yang paling sesuai dengan tema. Qibo berharap untuk karya yang masuk ke depannya, semoga teman-teman pameris bisa lebih mengembangkan skill-nya dalam berfotografi dan melatih membuat visual yang baik, agar pemaknaan visualnya ketika dilihat oleh audiens, pesannya bisa tersampaikan. Menurut Qibo, ada satu karya yang paling representatif dengan tema yang diangkat. Karya tersebut menceritakan si pengkarya yang keluarganya meninggal dunia akibat pandemi COVID-19, dan si pengkarya berusaha mendokumentasikan itu. Aku berasumsi karya yang dimaksud adalah karya dari Adhi Wijaya yang bertajuk “Sekali Tiga”. Pandemi terasa begitu berat bagi Adhi, karena secara hampir bersamaan, ia kehilangan tiga anggota keluarganya yang salah satunya adalah ibu kandungnya sendiri. Karya Adhi bisa dilihat di sini.

Beruntungnya, aku pun mendapatkan tur galeri dipandu oleh Exhibition Director Solo Photo Festival 2021. Namanya Hafiz. Ia menjelaskan seluruh karya yang ada di lantai 2 dan lantai 3. Karya yang dipajang merupakan karya buatan para pameris undangan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dosen dan guru besar fotografi, serta salah seorang pameris dari sesi open submission. Aku dibuat cukup berdecak kagum, sekaligus kecewa karena menurutku eksplorasi mediumnya cenderung biasa-biasa saja. Kukira, akan ada yang mencetak di medium yang tidak lazim dipakai di pameran fotografi. Nyatanya, hanya ada beberapa kertas foto atau digital printing bertekstur. Tapi, bukan berarti pamerannya jadi tidak menarik. Konteks dan teknik fotografi yang dipakai tetap membuat bertanya-tanya. Misalnya, ada Anin Astiti yang membuat dua karya bertajuk Line on Lines dan Micin Nation menggunakan teknik photogram. Photogram merupakan teknik fotografi tanpa menggunakan kamera. Visual dibuat dengan menempatkan objek secara langsung pada permukaan bahan yang peka cahaya seperti kertas foto dan kemudian memaparkan mediumnya ke cahaya. Anis membuat visual dari makanan ringan (snack) yang membuat kita kangen dengan masa kecil, seperti mie kremes, mie lidi, makaroni dan beberapa cemilan lainnya.

Aku juga berkesempatan untuk ngobrol dengan dua pengkarya yang berhasil lolos tahap kurasi melalui open submission, yaitu Kevin Rangga Aditya dan Ali Yusro. Keduanya merupakan mahasiswa ISI Surakarta. Karya Kevin bertajuk “Harapan”. Kevin berusaha memvisualisasikan pengalaman dan perasaannya saat sedang terpuruk. Menurutnya, diantara kelamnya saat itu, ternyata masih ada ‘bunga harapan’ yang mekar. Ia menggunakan teknik fotografi underwater dan slow speed  untuk menyampaikan memori tersebut. Tinta akrilik yang membaur diantara air dan bunga yang menjadi objek menjadikan visualnya tampak begitu hidup. Kevin sendiri merasa puas dengan hasil karyanya, walau sebenarnya ia sempat memproyeksikan karyanya untuk dicetak di artpaper. Karya Kevin bisa dilihat di sini.

Sedangkan Ali membuat karya yang bertajuk “Purnacandra”. Ia bercerita tentang fase bulan purnama di akhir kuartal pertama tahun 2020, dimana itu merupakan bulan purnama pertama yang terjadi saat pandemi. Menurut Ali, ia kurang puas dengan output pamerannya karena ia berharap bisa mencetak karyanya di neon box. Aku sendiri bisa membayangkan, jika dicetak di neon box, kemungkinan karya Ali akan tampak lebih bertenaga. Karya Ali bisa dilihat di sini.

Dengan diadakannya Solo Photo Festival ini, mereka berharap bahwa kegiatan ini bisa membangun jaringan kerja sama antara mahasiswa prodi fotografi dengan sesama pengkarya di dalam maupun luar negeri. Semoga aku masih berkesempatan baik di tahun depan, agar aku bisa hadir lagi ke Solo Photo Festival 2022.



Puti Cinintya Arie Safitri
Content Marketing Manager at IDEABAKERS
OTHERS

...

Sumber Kehidupan itu adalah Ib...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
22 Dec 2021 | 1 minutes to read

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved