Menelusuri Jejak-jejak Asal Mula dalam Biennale Jogja XVI

Oleh: Puti Cinintya Arie Safitri

Sebelum memulai tulisan ini, aku sempat agak kebingungan akan menuliskan apa, menceritakan yang mana terlebih dahulu. Aku mencoba mengingat kembali rasanya menghadiri gelaran Biennale Jogja XVI pekan lalu. Kebetulan, aku menghadirinya di hari terakhir. Kebetulannya lagi, aku punya keterikatan perasaan terhadap Yogyakarta yang membuatku luar biasa gembira bisa mendapatkan kesempatan ini. 

Untuk bisa masuk ke sana, kami perlu mendaftarkan diri terlebih dahulu. Baru saja kaki melangkah masuk, aku dihadapkan dengan poster-poster wajah orangyang entah siapa, kemudian ketika aku melihat ke kanan, ada sebentuk karya dengan morfologi yang tidak asing buatku. Sebuah pelir lengkap dengan zakarnya terpajang di tembok, dan juga di lantai, dan dimana-mana. Tapi, kepalanya berbentuk peluru. Hmm, pelir, peluru, pelir, peluru, pikirku. Aku berusaha menebak simbolisasi apa yang sebenarnya berusaha disampaikan lewat karya ini. Jika boleh sok tahu, aku membayangkan pelir berkepala proyektil sebagai lambang maskulinitas dan superioritas, yang kemudian menunjukkan kuasanya dengan ujung pelurunya. Ada juga pakaian dalam berceceran di sekitarnya, beberapa kotor terinjak pengunjung, sebagian tersampir di pelir yang menggantung di tembok. Ambience di sekitar juga tidak kalah menyesakkan, dingin, ada cahaya berputar-putar yang jadi objek foto oleh para pengunjung. Ada instalasi seni berwujud perempuan (?) tanpa pakaian yang juga punya pelir yang sama seperti yang tersebar dimana-mana, di ruangan itu.

Karya Udeido Collective - "Koreri Projection"

Karya yang kuceritakan ini merupakan karya dari Udeido Collective yang bertajuk “Koreri Projection''. Mereka mencoba menghadirkan gambaran perjalanan entitas manusia-manusia Papua menuju Koreri, suatu ruang dimana jiwa-jiwa itu hidup dalam kedamaian setelah melewati dimensi material dan segala ironinya. Jejak mereka tertinggal pada ruang-ruang hidup yang tergusur, tanah-tanah adat yang direbut, suara-suara yang dibungkam, serta ingatan kolektif akan kekerasan dan penindasan manusia oleh manusia. Pengkarya juga mencoba membangun sebuah proyeksi perjalanan fisik dan spiritual itu, dari puing-puing reruntuhan Tanah Papua yang diobrak-abrik, hingga memasuki Koreri yang abadi.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa karya yang dipamerkan terasa tendensius sekali. Nyatanya, Biennale Jogja XVI memang berusaha mengungkap ragam kebudayaan nusantara sekaligus menghubungkannya dengan wilayah-wilayah lain di sepanjang khatulistiwa dan pasifik. Jika dikutip dari websitenya, Biennale Jogja berupaya memfokuskan diri pada praktik-praktik yang menginvestigasi bagaimana seni dan kebudayaan kontemporer bertaut dengan kesenian di lokal tersebut. Dalam banyak literatur, seni-seni lokal-an ini acap disebut sebagai indigenous art (seni masyarakat pedalaman). Biennale Jogja XVI mencoba merespon fenomena tersebut dengan mengajukan tema “Roots <> Routes” yang berusaha membentangkan spektrum persoalan antara budaya dan mobilitas, seperti perihal kepribumian dengan rasialisme; batas-batas teritorial dengan diaspora; mitologi dengan modernitas; pengetahuan tempatan dengan krisis ekologi; hingga ideologi pembangunan dengan batas-batas pertumbuhan. Isu-isu sosial, politik, dan humaniora yang terjadi di sekitar dan mempengaruhi keberadaan ‘tradisi’  berusaha diceritakan kembali sesuai dengan interpretasi dari masing-masing pengkarya. Ada banyak penjelasan mengenai kenapa isu ini begini, dan begitu, yang mana jika dituliskan semua dalam tulisan ini, kamu pasti akan pusing sekali membacanya. Itulah yang kurasakan ketika berkeliling di sana; pusing, excited, bertanya-tanya, ketawa geli, takut, bingung, merasa terancam. Bisa jadi, campuran perasaan dan pengalaman ini memang sengaja diproyeksikan oleh masing-masing pengkarya.

Kurang lebih sebanyak 34 institusi dan perseorangan dipajang karyanya dalam gelaran Biennale Jogja XVI. Mungkin aku tidak akan menceritakannya satu-satu, karena pasti akan terasa seperti skripsi. Beberapa karya cukup provokatif, beberapa perlu dicerna baik-baik, beberapa lagi tanpa tedeng aling-aling membahas isu yang mungkin sensitif, misalnya jajaran KTP Indonesia milik ‘orang-orang Papua’ yang dibariskan dalam satu pigura. Kenapa ‘orang-orang Papua’ dikutipkan, karena nampaknya KTP yang dipajang hanyalah sebuah prototipe, bukan kartu identitas asli. Yang menarik, kalau tidak salah hitung, mungkin ada kurang lebih lima karya yang membahas soal Papua dan kemelutnya.

Ada pula karya dari Kurniadi Widodo, yang kebetulan pernah menjadi mentorku di Kelas Pagi Yogyakarta. Karya yang ia pamerkan bertajuk “Towards New Landscapes”. Sebenarnya, beberapa karya yang ditampilkan tidak baru bagiku. Projek foto yang berjalan sejak 2018 ini beberapa sudah pernah tayang di Instagram miliknya. Namun, rasanya sangat berbeda sekali melihat salah satu karyanya dicetak dengan dimensi super besar, mungkin sekitar tiga atau empat meter besarnya.

Karya Kurniadi Widodo - "Towards New Landscape"

Kurniadi berusaha merekam fenomena pariwisata kontemporer di Indonesia selama beberapa tahun terakhir dan pengaruh-pengaruhnya pada berbagai isu, antara lain pembangunan ekonomi berkelanjutan, perubahan fungsi lahan dan ruang, persepsi identitas diri, serta dampak-dampak lain yang mungkin belum terpetakan. Singkatnya, ia berusaha merekam spot-spot Instagramable yang dibuat-buat di beberapa lansekap yang menjadi objek wisata. Aku tertawa dalam hati ketika melihat ada pengunjung yang berfoto di depan karyanya, karena jadi ironis sekali. Ternyata karya yang dipajang di suatu pameran pun bisa jadi adalah ‘new landscape’ yang menjadi tempat berswafoto ria.

Karya lain yang benar-benar membuat saya terpukau sekaligus kewalahan mencerna interpretasinya adalah karya dari Greg Semu yang bertajuk “Red Coats + Indians 2.0”. Dikutip dari artist statement-nya, seri foto instalatif ini merupakan pengembangan dari versi “RED COATS+INDIANS” yang dibuat tahun 2019 saat residensi di National Taitung University. Karya ini merupakan bentuk kritik atas kultur populer global—terutama yang digambarkan lewat arketipe film Hollywood “Cowboys and Indians”— serta narasi sejarah arus utama tentang kematian Kapten Cook. Lewat media foto dan instalasi audio “Te Po”, Greg berusaha menghadirkan pengalaman multisensori untuk membentuk dialog alternatif dan subversif soal kolonialisme. Dan ini bukan klaim yang sembarang, memang benar pengalaman multisensori yang hadir sangatlah ‘mengganggu’. Ruangan yang dikondisikan suhunya, dingin dan mencekam. Hanya ada cahaya dari lightbox instalasi foto. Belum lagi suara-suara dari instalasi audio yang diperdengarkan. Terasa sekali hawa ‘perang’nya. Saya jadi ingat unit musik Senyawa ketika melihat karya ini.

Karya Greg Semu - “Red Coats + Indians 2.0”

Greg berkolaborasi dengan aktor dari suku Amis, masyarakat asli Taiwan. Mereka pernah mengalami penjajahan selama 200 tahun dan melihat jubah merah sebagai representasi visual dari negara-negara penjajah: simbol kekuasaan, kekuatan, darah dan pengorbanan. Dalam karya ini, Greg juga menambahkan prajurit perempuan untuk merespon peran gender yang tidak setara dalam penggambaran momen heroik sejarah. Secara visual, karya foto yang ditampilkan sangat konseptual, nyaris seperti melihat salindia dari potongan film kolosal. Sosok berjubah merah ditiban tubuh orang lain, dengan latar belakang tempat yang porak poranda, mungkin akibat perang.

Selebihnya, karya yang lain juga bercerita tentang banyak asal mula, tentang perjalanan, penguasaan, konflik dan seteru, yang mau tidak mau banyak mewarnai kehidupan manusia dari masa ke masa. Mungkin tulisan ini akan aku tutup dengan ‘renungan’, berasal dari tulisan yang terpajang sebagai bagian dari karya Eunike Nugroho yang bertajuk “Pelahap”. Katanya:

Aku adalah PUSAT.

Aku kuat dan berkuasa. Jika mereka kecil dan tak berdaya, kujinakkan, kuinjak, dan aku lahap.

 

Aku adalah makhluk paling istimewa, paling cerdas,

dan berhak menguasai makhluk lainnya. Aku berhak mengeksploitasi alam sebesar-besarnya. Demi mulut dan perutku…

 

Akulah PELAHAP.”

Puti Cinintya Arie Safitri
Content Marketing Manager at IDEABAKERS
OTHERS

...

Sumber Kehidupan itu adalah Ib...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
22 Dec 2021 | 1 minutes to read

...

Menelusuri Jejak-jejak Asal Mu...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
23 Nov 2021 | 4 minutes to read

...

Bermain-main dengan Memoar di...

PUTI CININTYA ARIE SAFITRI
18 Nov 2021 | 3 minutes to read

A medium to share curated story about people who brought their ideas into life, to inspire you to #BakeTheIdeaHappens

┬ęCopyright 2020 by IDEABAKERS. All rights reserved